Kamis, 06 Januari 2011

arah kiblat mengarah ke Barat Laut


DETIKPOS.net - Majelis Ulama Indonesia (MUI) meralat fatwa yang mereka terbitkan mengenai arah kiblat saat melaksanakan salat bagi umat Muslim. Semula, arah kiblat mengarah ke Barat.

"Sekarang jadi Barat Laut. Ada penyempurnaan," kata Ketua Komisi Fatwa MUI, Anwar Ibrahim di tvone, Kamis 15 Juli 2010. Dia menolak jika pergeseran arah salat ini disebut sebagai perubahan.

Sebenarnya, kata dia, hal ini belum dipublikasikan. "Tapi karena sudah disiarkan media...," kata dia.

MUI, kata dia, mengimbau seluruh masjid di Indonesia untuk menera ulang arah kiblat 14-18 Juli 2010.

MUI juga menghimbau agar setiap masjid menyesuaikan dengan letak geografis masing-masing. "Jika ditanya ada perubahan berapa derajat, MUI tidak menetapkan derajatnya," kata dia. Penyempurnaan ini, kata dia, dibantu dengan teknologi.

Arah kiblat untuk salat ini sempat menjadi perdebatan beberapa waktu lalu. Salah satu penyebabnya adalah gempa. [vn/ris]

Rabu, 05 Januari 2011

Empat tiang Mesjid Al Falah bergeser


TASIKMALAYA, DETIKPOS.net - Warga Linggajaya RT 02 RW 07 Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat digegerkan dengan bergesernya empat tiang Mesjid Al Falah yang berada di tengah pemukiman warga setempat. Anehnya, meski tiang bergeser, masjid tetap kokoh berdiri.

Dudung, 47 tahun, saksi mata yang juga ustad setempat mengatakan fenomena bergesernya empat tiang pilar mesjid Alfalah berlangsung Rabu (22/9) sore kemarin. Saat itu, kata dia, sekitar pukul 16.00 beberapa anak didiknya usai mengaji menyaksikan keempat tiang mesjid Al Falah bergeser ke sebelah kanan.

Kontan para santri yang menyaksikannya kaget. Mereka pun kemudian melaporkan peristiwa itu kepada Dudung. “Mereka tiba-tiba memberitahu saya bahwa tiang mesjid bergeser,” ujar Dudung kepada Tempo Kamis (23/9). “Awalanya saya tidak menghiraukan terhadap laporan anak-anak.”

Dudung baru menyadari laporan anak didiknya itu pada saat melangsungkan shalat Isya. Saat itu, dirinya bersama warga lainnya yang akan melakukan shalat berjamaah kaget saat menyaksikan keempat tiang mesjid bergeser ke kanan dari tempat semula atau sekitar 30 derajat dari arah kiblat.

“Saya kaget dan langsung berteriak dengan menyebut Allahu Akbar,” ujarnya.

Teriakan itu sontak mengundang perhatian warga sekitarnya. Warga pun mulai mendatangi masjid yang dibangun pada 9 Oktober 1989 tersebut. “Warga langsung pada ke mesjid untuk melihat pergeseran itu,”ujarnya.

Warga yang berkerumun menyaksikan pemandangan aneh tersebut. Mereka melihat posisi muka keempat tiang tembok mesjid memang menjadi tidak sejajar dengan garis keramik ataupun mimbar, namun mengarah kearah sudut kanan mesjid.

Saat warga menyaksikan pergeseran itu, tiba-tiba warga dikejutkan fenomena aneh lainnya. Saat itu juga warga melihat ke empat tiang mesjid kembali berubah ke arah semula. Dimana posisi keempat tiang mesjid berdiri searah dengan keramik yang digunakan menghadap mimbar dan mengarah arah kiblat.

Menyadari keempat tiang mesjid berubah, warga yang berkerumun langsung histeris, mereka mengucapkan istigfar, Allohu Akbar, bersujud hingga beberapa diantaranya menangis. “Suasana mesjid berubah. Saya juga sempat merinding,” ujar Dudung.

Dijelaskan Dudung, sejak awal pendirian mesjid tersebut memiliki empat tiang yang berdiri searah dengan keramik menghadap mimbar dan mengarah arah kiblat. Namun selepas terjadinya bencana gempa Tasikmalaya, tepatnya 16 Juli 2010 lalu, Ketua Dewan Keluarga Mesjid Mesjid Al Falah, Rofiq yang terkenal ahli falaq bersama warga mengubah arah kiblat mesjid tersebut ke arah sebelah kiri sekitar 30 derajat dari semula.

Menurutnya, pada saat melakukan perubahan arah bayangan matahari tidak sejajar dengan arah kiblat dan menunjukan ke arah kiri hingga warga pun mengikuti intruksi Rofiq tersebut. ”Lihat saja posisi sejadah ini belum diubah sejak perubahan itu,” ujarnya.

Syarifulgaos, warga lainnya yang menjadi saksi pembangunan mesjid tersebut mengaku kaget dengan adanya fenomena tersebut. Sebab menurutnya, pada saat pendirian mesjid, semua garis presisi antara arah muka dan tiang mesjid berdisi sejajar dan simetris.

“Bagi saya ini ini mungkin petunjuk,”ujarnya. “Bahwa arah kiblat yang sebenarnya harus mengarah ke arah mesjid semula pada saat dibangun,”. [ti/ris]

Senin, 03 Januari 2011

Ada 3 LUBANG RAKSASA kini


GUATEMALA, DETIKPOS.net - Sebuah lubang pembuangan raksasa terbentuk di sebuah kota di Guatemala.

Lubang seperti jurang maut ini terbentuk di tengah area penduduk Kota Guatemala. Lubang itu terbentuk pada Selasa (1/6/2010) waktu setempat, setelah badai tropis Agatha melewati daerah tersebut.

Awalnya pemerintah setempat menduga hujan deras telah membentuk lubang yang menelan gedung bertingkat tiga ini, namun kini mereka mengatakan akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan penyebabnya.

Lebih dari 100 orang dilaporkan tewas dalam badai. Itu tidak diketahui apakah ada yang tewas di gedung yang lenyap di dalam lubang. [surya]


BANDUNG - DETIKPOS.net - Jalan Kali Citepus di Jalan Pajajaran, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, ambles dengan kedalaman 7 meter dan diameter 6 meter.

Jembatan yang sudah ada sejak zaman Belanda ini ambles sekitar pukul 13.00 WIB akibat tergerus aliran Sungai Citepus kemarin. Menurut Nenden, saksi mata yang juga warga Jalan Pajajaran, RT 06/02, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, ini mengungkapkan, jembatan tersebut ambles setelah hujan deras mengguyur Kota Bandung sejak kemarin siang. Menurut dia, setelah melintasi jembatan tersebut, tiba-tiba ada keributan bahwa jembatan sudah ambles.

“Setelah saya melewati jembatan, tiba-tiba orang-orang pada ribut. Ketika saya lihat, rupanya jembatan sudah ambles,” ungkap Nenden di lokasi kejadian. Nenden menambahkan, tidak ada suara apa pun saat jembatan tersebut ambles.Menurut perkiraannya, jembatan tersebut ambles karena terlalu banyak menampung genangan air hujan.Pasalnya, jembatan tersebut sempat bolong sebesar satu meter selama dua minggu sebelum kejadian.

Bahkan, sebelum berlubang,jalanan mengalami retakan di beberapa ruas. Sementara itu,ditemui di lokasi yang sama, Kasatlantas Polrestabes Bandung AKBP Sambodo Purnomo membenarkan amblesnya jembatan Sungai Citepus yang terjadi setelah hujan deras kemarin siang.Menurutnya, jembatan tersebut ambles akibat derasnya aliran Sungai Citepus.

“Amblesnya jembatan diakibatkan oleh gerusan air dari aliran deras Sungai Citepus setelah hujan deras dan kejadian ini juga meninggalkan lubang dengan kedalaman sekitar tujuh meter dengan diameter kurang lebih sekitar enam meter,”ungkapnya. Akibat kejadian ini, lalu lintas di kawasan Jalan Pajajaran mengalami kemacetan parah.Mulai dari depan Istana Plaza Mall hingga titik amblas di perempatan Jalan Bima menuju Bandara Hussein Sastranegara.

Menurut Sambodo, untuk sementara waktu akan dilakukan rekayasa jalan di kawasan Pajajaran. Dirinya juga menambahkan, akan diberlakukan sistem buka tutup hingga ada perbaikan.“Kami juga mengimbau kepada warga Bandung yang menuju Bandara Hussein untuk melewati jalan belakang. Sementara itu,dari Jalan Bima dan Jalan Baladewa akan dialihkan ke Pasir Kaliki,”pungkasnya.

JERMAN, DETIKPOS.net - Sebuah lubang raksasa sekitar 40 meter muncul di kawasan permukiman penduduk di Schmalkalden, Jerman, Senin (1/11). Lubang dengan kedalaman 20 meter itu membuat kaget penduduk karena muncul tiba-tiba.

Sejumlah ilmuwan hingga kini masih meneliti penyebab terjadinya lubang besar tersebut yang telah menelan sebuah mobil. Kejadian ini tidak memakan satu orang pun yang cedera. Mereka yang tinggal dekat bangunan terdekat diungsikan karena dikhawatirkan lubang tersebut akan melebar.

Para ilmuwan berasumsi bahwa penyebab lubang (sinkhole) karena fenomena alam. Sebelumnya, pada awal tahun ini, lubang yang lebih dahsyat menelan bangunan di Guatemala City, terjadi setelah kota tersebut diamuk topan tropis Agatha. [wartanews/ris]

Minggu, 02 Januari 2011

'Crop Circle' Padi Sungguh Rebah Akibat Jejak UFO di Sleman














DETIKPOS.net
- Masyarakat terus berdatangan ke persawahan di Dusun Jogomangsan, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman, DIY, lokasi 'jejak UFO' yang tersohor dengan nama Crop Circle. Padi yang menguning di sawah, sungguh dibuat rebah demi menampilkan jejak misterius.

Pantauan detikcom, Senin (24/1/2011), lingkaran dengan pola teratur terbentuk dengan diameter sekitar 70 meter di atas areal tanaman padi jenis ciherang, yang siap panen 2 minggu lagi. Dari atas bukit, tampak jelas ada pola misterius yang sedemikian besarnya.

Jika dilihat dari dekat, pola itu tidak terlalu kentara. Namun, kita bisa melihat apa yang terjadi dengan padi-padi ini.

Padi yang mulai menguning rebah begitu saja. Jika padi ini ditimpa dari atas, tentu padi ini bisa rubuh ke arah mana saja secara acak. Tapi tidak dengan padi di sawah ini.

Batang-batang padi yang sedemikian rapat, hanya rubuh ke satu arah tertentu. Kesannya bukan ditimpa, melainkan dilewati sesuatu, entah apa itu. Yang jelas, sangat kentara kalau padi-padi ini direbahkan ke satu arah mengikuti jalur tertentu.

Jalur-jalur ini ada yang lebar, dan ada juga yang sempit. Di beberapa tempat jalur ini menyempit dan di tempat lain jalurnya menjadi lebar. Lengkung garis ini terkadang diselingi garis lurus dari pematang sawah.

Tidak diketahui apakah jejak ini berasal dari aktivitas UFO, fenomena alam angin puting beliung, atau terkait energi elektromagnetik kabel SUTET yang melintas tepat di atas Crop Circle ini.

Yang jelas, tidak ada bekas lain pada padi tersebut kecuali posisinya yang rebah. Tidak ada bekas terbakar atau pun tanda-tanda perubahan suhu tertentu di lokasi. Buktinya, embun pagi tetap menempel pada padi-padi yang rebah itu, sebagai tanda bahwa suhu di lokasi sama dengan suhu di sekitarnya. [detiknews/ris]

Sabtu, 01 Januari 2011

Inilah Ophiuchus, Zodiak Baru ke-13 Berwujud Pria dan Ular Besar










DETIKPOS.net
- Perlambangan 12 zodiak seperti Scorpio dengan kalajengkingnya dan Taurus dengan kerbaunya sudah diketahui khalayak umum. Lalu bagaimana dengan Ophiuchus yang menjadi zodiak ke-13?
Seperti yang dilansir dari dailymail.co.uk, Sabtu (15/1/2011), Ophiuchus sebenarnya sudah ada sejak bangsa Babylonia memberi nama 13 konstelasi bintang di langit. Namun, belakangan bangsa Babylonia 'menghilangkan' Ophiuchus karena mereka ingin jumlah konstelasi sama dengan jumlah bulan dalam satu tahun.

Orang yang lahir 30 November-17 Desember akan memiliki bintang Ophiuchus yang dalam bahas Indonesia berarti 'pembawa ular'. Dalam astrologi, seseorang yang berbintang Ophiucus akan memiliki umur yang panjang, kreatif, dan punya visi.

Ophiuchus muncul kembali dalam jajaran zodiak karena ahli astronomi dari Minneapolis, Profesor Parke Kunkle, berpendapat posisi sumbu bumi telah bergeser. Pergeseran ini menyebabkan zodiak yang semula 12 bintang menjadi 13 bintang.



-Aquarius : 17 Februari-11 Maret

-Pisces : 12 Maret-18 April

-Aries : 19 April-13 Mei

-Taurus : 14 Mei-21 Juni

-Gemini : 22 Juni-20 Juli

-Cancer : 21 Juli-10 Agustus

-Leo : 11 Agustus-16 September

-Virgo : 17 September-30 Oktober

-Libra : 31 Oktober-23 November

-Scorpio : 24 November-29 November

-Ophiuchus : 30 November-17 Desember

-Sagitarius: 18 Desember-20 Januari

-Capricorn : 21 Januari-16 Februari



Pendapat Kunkle menimbulkan pro kontra di masyarakat luas. "Dia (Kunkle-red) benar kalau bumi berubah, tetapi astrolog selama ini tidak mendasarkan prediksi mereka pada konstelasi bintang," ujar astrolog Jonathan Cainer.

"Sebuah bintang dinamakan atas konstelasinya, bukan pada posisi mereka di angkasa," lanjut Cainer.

Cainer mengatakan orang-orang tidak perlu mengkalkulasi ulang bintangnya setelah penambahan satu bintang Ophiuchus. "Ini penuh dengan omong kosong," kecamnya. [detiknews/ris]